Cerpen: Unforgiven

Posting Komentar
Ketika seseorang yang kamu cintai dibanding-bandingkan, mampukah kamu memegang teguh pendirian?

***

Awalnya, aku menyukai cowok ini. Namanya Irul. Sosok pria tampan dan saleh, anak Pak Ustaz tetangga rumahku. Sudah lebih dari satu minggu, aku tak menjumpainya.

Di pasar ini, dia biasa menunggu bus yang aku tumpangi sepulang sekolah, Kami akan melewati kebersamaan selama beberapa menit di dalam bus, sebelum akhirnya sampai di depan gang perumahan. Maklum, aku anak baru di perumahan ini, dan masih bersekolah dekat rumah lamaku.

Cowok yang tiga tahun lebih tua dariku itu, sudah beberapa kali main ke rumah ketika malam Minggu tiba. Tanpa ada komitmen, kami merasa mempunyai hubungan yang istimewa. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini dia jarang menampakkan diri.

Sesekali, aku pernah bertanya pada sahabatnya yang sering main ke rumah tetangga. Ternyata, Irul tidak diperbolehkan lagi mendekatiku, hanya karena aku bukan berasal dari keluarga muslim yang taat.

***

Matahari mulai merangkak ke peraduan. Aku dan Tipuk—tetanggaku—menghabiskan ngabuburit hari ini dengan berjalan-jalan di pasar. Kami menyambangi toko suvenir dan alat tulis.

“Puk, kartu lebarannya bagus-bagus. Lihat, yuk!” kataku ketika melihat deretan kartu lebaran unik, berjejer di sebuah tikar yang digelar di depan toko itu.

“Eh, tetapi yang jual masnya gondrong, lho. Kamu enggak takut?” tanyanya.

“Ngapain takut? Tuh, banyak yang antre di depannya.” Tunjukku sambil menggamit lengan Tipuk menuju lapak kartu lebaran itu.

Sebuah tangan terampil melukis tanpa sketsa, menggunakan spidol berwarna-warni di kertas kalkir. Rambut ikalnya panjang tergerai hampir sepinggang dan sebuah tindik memantul dari hidung. Menggunakan kaos hitam lengan pendek dengan celana jin yang robek-robek di bagian lututnya. Ada tato yang menyembul dari lengan kaosnya.

Huruf demi huruf dia rangkai dengan indah. Desain kartu pun disesuaikan selera pemesan, dengan harga yang relatif mengikuti besar kecilnya ukuran kartu.

Aku memandang hasil kreativitasnya satu per satu. Salah satu kartu lebaran pesanan orang yang sudah dilaminating, menjadi perhatianku. Tanganku pun mengambil kartu itu.

“Kalau yang seperti ini, harganya berapa, Mas?” tanyaku.

Dia segera mengangkat kepalanya, lalu tersenyum padaku. “Kalau ukuran segitu, harganya dua ribu, Dik.”

“Oh ….” Aku mengangguk pelan. Mataku pun mulai mencari kartu yang lain.

“Itu?” Aku menunjuk sebuah kartu.

“Itu ukurannya lebih kecil, seribu lima ratus.”

“Aku mau yang itu, ya, Mas?”

“Oke. Gambar dan tulisannya mau yang seperti apa?”

“Hmm … seperti kartu yang kupegang ini, boleh?”

“Boleh.” Dia mengambil sebuah buku dan pulpen, lalu memberikannya padaku. “Tulis nama penerima dan pengirimnya, ya.”

Aku meraihnya. Segera kutulis nama Irul sebagai penerima.

“Pacarnya, ya, Dik?” Dia tersenyum padaku setelah membaca tulisan itu. “Ambilnya besok sore, ya.”

“Iya, Mas. Ya udah, aku pulang dulu, ya.”

“Iya, Dik. Hati-hati.”

***

Keesokan harinya, aku kembali ke pasar ini untuk mengambil pesanan kartuku. Lapak tampak kosong, hanya beberapa kartu pesanan yang berjejer apik di tikar usang itu.

“Eh, udah nyampe sini lagi. Nih, barusan kartumu aku laminating,” ujarnya setelah melihatku menunggu di lapaknya.

Dia memasukkan kartu itu di sebuah amplop putih, lalu mengulurkannya padaku. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Dia menarik rambut ke belakang telinga, hingga tampak beberapa tindik menghiasi kedua daun telinganya.

Sesaat, kami pun berbincang di sela kesibukannya membuat kartu. Beberapa orang hilir mudik memesan dan mengambil pesanan. Orangnya ramah, juga senang bercanda. Meski penampilannya khas anak metal, tetapi dia pribadi yang menyenangkan.

Namanya Rudy. Sosok nyentrik yang pertama kali kukenal. Lulusan salah satu sekolah kejuruan desain grafis ternama di kotaku. Penikmat seni lukis, juga pemetik senar gitar di saat waktu senggangnya. Suara beratnya pun sangat cocok menyanyikan lagu-lagu slowrock.

Seperti ada magnet yang memaksaku betah duduk di bangku kecil ini. Beberapa kali, kami saling curi pandang. Senyumnya mengembang setiap kali mata kami bertaut. Akhirnya, dia menanyakan alamat rumahku. Aku menatap binar itu, lalu tersenyum dan mengangguk ketika dia meminta izin akan bertandang ke rumah.

***

Deru motor butut berhenti di depan rumahku. Sebuah suara yang sudah kukenal, mengucap salam di depan pintu yang terbuka.

Aku mempersilakannya masuk. Dia segera melepas sepatu bot yang sudah tampak berlubang di beberapa bagian. Sebuah ransel butut pun menghiasi punggungnya yang tertutup jaket jin warna biru laut itu.

Ada debar ketika aku mulai berbincang dengannya malam ini. Sorot mata elang itu, jauh berbeda dari milik Irul. Pertahanan hatiku mulai goyah.

Usianya tiga tahun lebih tua dari kakak pertamaku. Ya, aku jatuh cinta pada sosok yang usianya matang untuk menikah, sedangkan aku baru saja mengenyam bangku sekolah menengah atas.

Sejak saat itu, pertemuan kami semakin intens. Dia sering menjemputku pulang sekolah jika tak bertepatan dengan jam kerjanya, menggunakan motor butut yang kadang tak kuat di tanjakan.

Dia bekerja di sebuah studio musik. Mengatur jadwal penyewa studio hingga sound system. Aku sering menemaninya di sana sepulang sekolah. Bertemu anak-anak band dengan segala kebiasaannya. Abu serta puntung rokok betebaran di teras depan studio. Begitu pula kulit kacang yang menggunung, menjadi pemandangan yang sudah biasa di sana.

Grup band-nya menjadi salah satu pengisi tetap jadwal studio. Tiap kali berlatih, aku ikut masuk ke ruangan yang kedap suara itu. Melihatnya berteriak sembari jemarinya lincah memetik gitar listrik.

Aku menikmati alunan musik yang dia sajikan, meski tak paham apa yang dinyanyikannya. Kepalaku ikut bergerak, seiring dentuman drum yang ditabuh cepat.

“Besok malam, aku ada pertunjukkan di gedung kesenian. Kamu ikut, ya?” pintanya.

“Biasanya sampai jam berapa?”

“Sebelum tengah malam, kamu kuantar pulang.”

Aku mengangguk setuju. Bukan tanpa alasan, malam Minggu aku bisa keluar hingga larut tanpa memikirkan tugas sekolah. Dia pun gentlemen, berani meminta izin pada orang tuaku.

Suasana gedung kesenian kota tampak ingar bingar oleh orang-orang yang ingin menyaksikan konser musik indi khusus aliran underground. Di dalam gedung, berjejal ratusan orang berpakaian serba hitam.

Dia mengajakku ke suatu ruangan dari pintu samping. Di sana, deretan kursi telah tersedia untuk pengisi acara. Kami duduk di salah satu sudut dekat pintu keluar.

“Dik, aku keluar sebentar, ya. Kamu tunggu di sini aja.”

Tanpa meminta persetujuanku, dia pergi keluar ruangan. Aku mendekap jaket jin kesayangannya. Sesekali, berbincang dengan teman satu band-nya.

“Mbak, boleh minta tolong, nggak?” Seorang panitia menghampiriku—mungkin temannya juga.

“Kenapa, Mas?” tanyaku balik.

“Ini … salah satu pembawa acaranya sedang ke toilet, sedangkan sebentar lagi, saatnya dia yang ngisi. Tolong, dong, sebentar aja, gantiin posisinya. Nanti berdua, kok, sama pembawa acara satunya.”

Aku bingung harus menjawab apa. “Mas Rudy lagi keluar, aku harus izin dulu sama dia.”

“Nanti aku yang ngomong ke Mas Rudy, Mbak. Tolong, ya ….”

Sungkan, aku pun beranjak. Masuk melalui satu pintu menuju panggung utama. Riuh penonton menggema di dalam gedung. Aku memberanikan diri maju, hampir di ujung panggung yang berdekatan dengan penonton. Sesekali menanggapi pembawa acara yang bertugas memberi jeda untuk penampilan grup band selanjutnya.

Sekitar dua menit di panggung, aku kembali ke ruangan samping, setelah mendapat ucapan terima kasih dari panitia tersebut.

Mata elang itu menyorotku tajam. “Aku nggak suka Adik seperti itu!”

“Kenapa? Aku kan cuma ingin membantu ….” Aku membela diri.

“Adik tau, penonton yang di depan itu mabuk! Tadi kalau Adik dipegang-pegang, gimana? Itu juga panitianya, nggak ngomong dulu ke aku!”

Nada bicaranya berat. Berulang kali dia mengembuskan napas dengan wajah penuh amarah. Kemudian, mengajakku keluar.

Kami duduk di bangku taman dekat pintu samping. Dia terus menatapku. Perlahan, tangannya meraih jemariku dan memegangnya erat.

“Aku cuma takut Adik kenapa-kenapa. Adik kan nggak tahu dunia musik ini. Hampir semua yang ada di ruangan itu mabuk!” Dia terdiam sejenak. “Aku juga suka minum, tetapi nggak berani jika sedang bersama Adik.”

Kulihat ada kejujuran di sana. Dia mengakui kalau dirinya juga pengguna narkoba. Hanya saja, dia berjanji tak akan pernah menjerumuskanku pada dunia hitam itu.

Sebelum tengah malam, dia mengantarku pulang. Setelah berpamitan pada Ibu, dia pun meluncur kembali ke gedung kesenian.

“Ibu nggak suka kamu pacaran sama Mas Rudy!” kata Ibu setelah mengunci pintu.

“Memangnya kenapa, Bu? Mas Rudy orangnya baik, kok.”

“Penampilannya itu, lho, urakan kayak anak jalanan! Ibu lebih senang kalau kamu pacaran sama Irul!”

Aku menghela napas. “Orang tua Mas Irul yang nggak suka sama aku, Bu. Mungkin karena aku punya bapak yang pemabuk dan penjudi, sedangkan mereka dari keluarga yang beragama.”

“Kamu kan bisa, milih pacar yang penampilannya nggak urakan kayak Mas Rudy itu. Lagian, apa dia juga salat?” Ibu mencercaku.

“Semua butuh proses, Bu. Setiap kali ketemu Mas Rudy, aku selalu mengingatkannya untuk salat.”

“Pokoknya ibu nggak suka, kamu pergi lagi sama dia!” Ibu pergi meninggalkanku dan masuk ke kamarnya.

Aku mencuci muka, lalu segera menghempaskan badan di kasur. Termenung menatap langit-langit kamar, berusaha mencerna kata-kata Ibu. Hampir seribu hari kebersamaanku dengannya. Berbagai kisah pun telah kami tuang.

***

“Jadi, Ibumu nggak suka sama aku?”

Aku mengangguk pelan. Sorot elang itu redup.

“Aku menyadari siapa diriku, Dik. Aku memang bukan yang terbaik buat kamu. Banyak yang lebih tampan dan rajin salat seperti keinginan ibumu.” Keheningan menyertai pertemuan kami kali ini. “Aku akan pergi!”

Aku tahu, dia pergi membawa luka yang sangat dalam. Tak berselang lama, aku menjenguknya di rumah sakit karena overdosis. Dia pun menunjukkan tato yang bertuliskan namaku di lengan kanannya, juga sebuah lagu dia ciptakan untukku, yang masuk dalam album indinya, “Unforgiven”.


--o--

Oleh: Dini Verita

*Telah dibukukan dalam buku "First Love"
Pena Kreatif Publishing, 2019

kisahpisces

Related Posts

Posting Komentar