Langsung ke konten utama

Postingan

Iduladha yang Berbeda

Barusan baca pengumuman di wag blogspedia kalo ada challenge menulis di bulan Juli ini. Temanya tentang Iduladha, yang periode challenge -nya dimulai dari tanggal 4-25 Juli 2022.  Duh, ke mana aja, Mak, kok bisa kelewatan? Baiklah, nggak usah berpanjang kali lebar, segera kita eksekusi tulisannya. Btw , opening dihitung juga nggak, ya, jumlah katanya? 🤭 Di sini, aku enggak akan bahas apa itu Iduladha. Aku yakin teman-teman udah tau dan paham banget tentang salah satu hari raya Islam ini. Aku cuma mau nulis tentang kegiatan apa saja yang aku lakukan pada hari raya itu. Sesuai tema blog ini, yang kubuat untuk melampiaskan memori yang sempat terlupa. Baiklah, aku mulai. Bismillah. Sebelumnya, aku mau minta maaf dulu, nih. Dikarenakan aku bukan penganut aliran tertentu yang ada dalam ormas Islam di Indonesia, jadi aku dan suami mengikuti jadwal Hari Raya Iduladha yang ditetapkan pemerintah, tepatnya Ahad, 10 Juli 2022. Jujur, aku belum paham tentang ormas dan manhaj-manhaj. Meskipun ada

Lee Yoo-mi vs Lee Anna

Malam ini, aku nonton 2 episode awal serial Anna, yang diperankan Bae Suzy. Ceritanya, Yoo-mi ini anak cerdas di sekolahnya. Dia mendapat peringkat 1 buat ujian masuk universitas. Kayaknya baru semacam tes gitu, ya. Permasalahan muncul ketika Yoo-mi ketahuan pacaran sama guru seni musiknya. Pihak sekolah melarang hubungan itu. Yoo-mi akhirnya disuruh pindah sekolah. Hem ... emang nggak boleh, ya? Kayaknya kalo di Indonesia fine-fine aja, deh, ya. Nah, ketika pindah sekolah, Yoo-mi kehilangan prestasinya, meski dia udah belajar mati-matian.  Coba kalo kita memposisikan diri sebagai Yoo-mi. Ngerasa ada beban mental gitu nggak, sih? Depresi juga, cuma gara-gara pacaran sama Pak Guru harus sampai pindah sekolah dan jauh dari keluarga. Hasilnya, Yoo-mi nggak lolos masuk universitas. Pas bapaknya nelpon, dia nggak mau bikin kecewa. Jadilah, kebohongan pertamanya. Meski nggak diterima, Yoo-mi tetap berpura-pura kuliah di universitas impiannya.  Coba tonton terus perhatiin adegan ini. Liat jak

Status Unfaedah

Hari ini, aku cuma mau berbagi status WhatsApp-ku. Status unfaedah, yang nyatanya bikin kepalaku tambah pusing. Ketika dukungan yang kuimpikan,malah menjadi bumerang yang menyerang. Hah! 07.21 Assalamu'alaikum , selamat pagi, good morning, sugeng enjang . Selamat beraktivitas. Yang lagi sakit, semoga segera diberi kesembuhan. Aamiin. Jadi semalam, aku diantar Pakbud ke dr. Sp.S. Diagnosis sementara vertigo perifer. Pemicunya bisa karena kelelahan dan terlalu mikirin sesuatu. Mbathek gitu. Bu Dokter ngasi semacam tes-tes juga. Dari tes mata sampai tes keseimbangan. Komplet neranginnya. Pantes pasiennya ngantre, meski 1 pasien bisa nyampe 10 menit. Alhasil, semalam aku jadi pasien rawat jalan terakhir, sampe lampu lobi dimatiin 😂 08.37 Kenapa diagnosis sementara? Karena Budok nunggu hasil laboratku pas kontrol nanti. Budok nawarin, kontrolnya mau 1 minggu ato 2 minggu ke depan? Aku milih 2 minggu aja. Loh, kenapa?   Nunggu gajian, biar siap ada pegangan. Duh, emak ... udah ditanggu

Cerpen: Dikejar Utang

Jam di pergelangan tangan kananku menunjukkan pukul tiga sore ketika aku kembali memasuki kantor. Hari ini begitu melelahkan. Aku harus mengunjungi beberapa klien untuk menawarkan kredit. Baru saja aku meletakkan tas jinjing di meja, Pak Sunyoto—Branch Manager tempatku bekerja—memanggil. Aku yang sedikit terkejut, segera menuju ruangannya dengan setengah berlari. Ini aneh, karena biasanya hanya Mbak Putri—sang manajer marketing—yang selalu mencariku. Setelah mengetuk pintu, Pak Sunyoto mempersilakanku masuk dan duduk di sofa cokelat. Tak ada senyuman yang biasa menghiasi bibirnya. Tampak wajahnya begitu tegang, membuatku bergidik. “Mbak Ana sudah berapa lama kerja di sini?” tanya Pak Sunyoto. “Sudah lebih dari lima belas tahun, Pak,” jawabku mantap. Aku diterima bekerja di kantor ini setelah lulus kuliah. “Jadi seharusnya Mbak Ana paham, ‘kan, peraturan di marketing?” tanyanya lagi. Aku terdiam sambil menggigit bibir bawah. Aku memang paham semua peraturan itu, baik tertulis maupun tak

Cerpen: Baju Baru

Siang ini setelah menghadiri resepsi pernikahan tetangganya, Bu Aminah mengajak Pak Darto jalan-jalan ke sebuah mal. Meski sebenarnya enggan, tetapi Pak Darto tak ingin membuat kecewa hati istrinya itu. “Pa, gaunnya bagus, ya?” kata Bu Aminah sambil menunjuk sebuah gaun hitam panjang berlengan pendek yang ada di etalase sebuah toko. Pak Darto menghela napas, lalu tersenyum. Dia tahu maksud istrinya. Itu sebuah kode jika sang istri menginginkan sesuatu. “Bagus,” jawabnya datar. Bu Aminah tampak cemberut. “Lo, kenapa? Emang jawaban Papa salah?” “Jawabnya yang antusias dong, Pa.” Pak Darto terkekeh. “Yang antusias itu seperti apa, Ma? Apakah Papa harus terlonjak kegirangan gitu?” Kesal, Bu Aminah kembali berjalan sambil mendengkus. Dia merasa suaminya tak pengertian. Pak Darto hanya mengekor di belakangnya. Lelaki setengah abad itu mengernyit, menyadari sang istri berjalan keluar mal. Segera dia mencekal lengan Bu Aminah. “Jalan-jalannya sudah, Ma?” tanyanya lembut. “Sudah! Kita pulang aj

Cerpen: Cintaku Kandas dalam Lift

Malam mulai merangkak. Sudah dua hari, aku melihatnya lembur di meja kerja dekat pintu kaca ruangannya. Seorang gadis yang dulu pernah mengisi hari-hariku semasa SMA. Namanya Rachel, berpostur mungil dengan rambut sebahu. Model kacamata yang dia pakai serasi dengan hidung sedang dan bentuk wajahnya yang oval. Sedangkan aku, cowok berperawakan kurus tinggi dengan kulit kecokelatan. Tak tampak seorang pun yang menemaninya di ruangan itu, sedangkan lampu di lorong gedung perkantoran ini sudah dipadamkan pelayan satu jam yang lalu. Di sini, di depan lift tepat di hadapan pintu kaca itu, aku terpaku memandangnya. Lebih dari lima tahun kami tak lagi berkomunikasi, sejak dia memutuskan hubungan asmara ini. Perlahan, aku melangkah mendekatinya. Tubuhku mampu menembus pintu kaca transparan itu. Kini, aku berdiri tepat di belakangnya. Aroma parfum yang menguar dari tubuhnya masih sama seperti dulu. Namun, rambutnya terlihat lepek dan berminyak. Matanya fokus menatap layar komputer dengan jari ya

Cerpen: Gadis Pilihan

Gadis kecil itu berlarian. Rambutnya yang panjang tergerai, tersapu lembut oleh embusan angin. Gelak tawa pun mengiringi keseruannya bermain bersama teman-teman. Aku begitu menikmati sosoknya dari kantin sekolah ini. Gadis cantik berkulit putih dengan tinggi di atas rata-rata untuk seusianya. Sosoknya yang begitu ceria, membiusku hingga tak mampu berpaling. *** Aku membuka mata, seiring jantung yang bertalu tak berirama. Aku segera beristigfar mengingat mimpi yang sudah 12 tahun ini selalu menghantui malamku. Namun, mimpi malam ini terasa begitu menyesakkan, karena semalam aku melihatnya lagi secara nyata dalam suasana yang tidak tepat. Aku memaksakan diri untuk bangun, meski kepala terasa sangat berat. Jam beker menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Hujan lebat di luar, mengantar hawa dingin masuk melalui kasa jendela kamar. Setelah mengusap wajah, aku menuju kamar mandi dengan gontai. Kuambil air wudu untuk melaksanakan salat Tahajud. Air yang dingin itu, mampu membuat kepalaku sedikit